Sabtu, 02 Oktober 2010

Sekilas Tentang Survival

Orang-orang yang senang berpetualang, baik di gunung, di hutan, atau di tempat lain, harus selalu sadar akan resiko yang ada pada kegiatan-kegiatan tersebut. Pengetahuan dan pemahaman akan resiko yang mungkin didapat merupakan suatu faktor yang esensial dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan di alam terbuka. Resiko apa saja yang muncul, berkaitan erat dengan bahaya-bahaya yang terkandung dalam pelaksanaan kegiatan.

Secara umum sumber bahaya dapat berasal dari diri kita sendiri(subjective danger) dan yang berasal dari lingkungan(objective danger). Subjective danger misalnya keteledoran, persiapan yang asal-asalan, pengetahuan yang minimal, dan lain-lain. Karena sifatnya yang demikian, maka subjective danger ini masih berada di bawah penguasaan atau masih dapat kita kontrol. Objective danger merupakan bahaya yang mengancam dari luar diri kiata yang timbul dari lingkungan, misalnya gempa bumi, banjir, binatang buas, dan lainnya.

Bahaya di atas merupakan pengertian relatif. Ada yang merupakan bahaya bagi orang tertentu tetapi sebagai hal yang menyenangkan bagi orang lain. Konkritnya, bagi pecinta alam yang mengusai dengan baik teknik-teknik dasar hidup di alam bebas, mendaki gunung berapi, menjelajahi hutan rimba, bermain di arus deras, merupakan hal yang menyenangkan. Tidak demikian bagi orang-orang awam, mungkin kegiatan-kegiatan di atas akan dapat mencelakakan mereka.

Perlu diingat, bagaimanapun siapnya kita dalam mengahadapi berbagai resiko, suatu waktu mungkin kita mengahadapi situasi kritis yang tidak kita inginkan. Situasi seperti itu merupakan hal yang tak terduga. Dlam perjalanan mendaki gunung misalnya, kita dapat tersesat beberapa hari sementara bekal makanan sudah semakin menipis. Atau dalam suatu pelayaran, kapal kita tenggelam dan kita terapung-apung di tengah-tengah lautan. Kondisi-kondisi kritis/marjinal seperti itu dapat kita golongkan sebagai kondisi survival.

Survival berasal dari kata survive, yaitu secara sederhana dapat diartikan sebagai upaya untuk mempertahankan hidup. Pentingnya mempertahankan hidup(survival) berkaitan dengan munculnya kondisi kritis. Yang dapat dipertanyakan di sini : “Apa yang menyebabkan kondisi kritis itu muncul?” atau dengan perkataan lain, “aspek” apa yang akan kita hadapi dalam situasi survival? Dalam kenyataannya, hal-hal yang akan kita hadapi tergantung pada spesifikasi kondisi tersebut, misalnya tersesat di gurun pasir atau di kutub akan memunculkan aspek-aspek yang berbeda. Namun di lain pihak, dapat ditemukan adanya kesamaan-kesamaan tertentu pada aspek yang akan muncul dalam setiap kondisi survival.
Secara umum aspek-aspek itu dapat dipisahkan pada 3 golongan
  • Psikologis   : panik, takut, cemas, kesepian, sendiri, bingung, tertekan, kebosanan, dan lain-lain
  • Fisiologis     : sakit, lapar, haus, luka, lelah, dan lainnya 
  • Lingkungan : panas, dingin, kering, hujan, angin, fauna, dan lainnya .                                                                                                                                
Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Aspek-aspek lingkungan dan fisiologis dapat mempengaruhi aspek psikologis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar