Perjalanan kali ini avante membawa 20 orang ke Kota temanggung desa kledung tepatnya di Gunung Sindoro. Perjalanan kami berbeda seperti pada perjalanan-perjalanan sebelumnya. Keikutsertaan Ketua KMTF dan anak buahnya menjadi tantangan buat kami untuk bias mengibarkan bendera KMTF dan avante bersamaan di puncak.
Pemberangkatan diawali dari basecamp KMTF menuju desa kledung jam 17.00-21.00 WIB pada hari Selasa. Setelah itu kami tiba di basecamp G sindoro yang dihuni oleh banyak tim sar. Kami pun mencatat nama-nama kami di buku catatan tim SAR, agar terlihat keren dipajang dan di tonton oleh pendaki lain kami tulis besar nama kami “AVANTE”. Sekitar 1 jam kami menunggu makanan dengan rasa ngantuk yang bertatih-tatih akhirnya seorang juru jaga POS membawakan kami nasi telor beserta bakmi ala menderita. Setelah makanan semua habis kami mengecek barang bawaan dan langsung berpamitan kepada SAR untuk naik malam ke sindoro.
Pukul 22.30 WIB kami bergegas naik melihat situasi dilingkungan kami terasa seperti dalam lemari ES yang sangat besar atau tepatnya ” berkelana di Benua Eropa pada bulan Desember saat terjadi badai salju”. Tak terasa perjalanan kami yang begitu berat, mudah untuk kami lewati. Satu, dua bahkan lima kali punggungan kami lewati diawal-awal pendakian belum membuat letih badan kami. Terlihat hamparan luas ladang petani kentang dan kol membuat berbeda suasana, yang menjadikan hawa sejuk, damai setelah penat di kota dan kampus yang hiruk pikuk.
Pukul 24.00 WIB kami tiba di POS I. Di pos ini sekarang kami tertatih-tatih merasakan setiap tetesan keringat keluar dari badan kami. Hawa udara pegunungan yang turun semakin dingin membuat kami semakin berimajinasi untuk bias berhenti, bergelipungan, mendirikan tenda secepatnya dan TIDUR. Sepertinya hal-hal seperti itu sudah sangat tak mungkin buat kami. Tetapi kami tetap sabar dan selalu bersemangat mengarungi Mrs. Sindoro dengan ditemani bintang-bintang (pada hari itu langit terlihat cerah). Dan saat itu kami seakan dibisiki suara oleh kelap-kelip bintang “Hehehe kawanku temani aku melewati malam ini ya…”. Dan kami pun selalu jawab dengan lantang “Tidak mau kami akan segera sampai dan langsung tidur” seakan bintang memberikan muka lusuh dan marah kepada kami. Seketika bintang itu kabur berganti awan gelap menutupi perjalanan kami.
Pukul 01.00 WIB dini hari kami sampai di POS II. Kami memasuki hutan yang begitu lebat dengan jalan menaik tanpa pernah membuat jera kami untuk berhenti “break” sebuah kata kepada kami jika kami ingin berhenti sementara untuk menghilangkan lelah. Seseorang dari kami seakan berbicara pada hutan yang lebat itu “masih berapa lama lagi kita harus berjalan seperti ini biar sampai ke pos III, ‘kata teman kami,..Hutan yang lebat itu menjawab,’ ya kira-kira 2 jam lagi.” . Setelah mendengar jawaban tanpa dosa itu kami tergulai lemas dan kaku untuk mengarungi sampai di pos III. Perjalanan terus menaik tanpa kenal ampun dan dosa. Kami terus tertatih-tatih seperti musafir perang yang bergerilya.
Akhirnya pukul 04.00 WIB kami terlambat sampai di POS III. Dan seakan kami langsung bergegas memberikan kabar gembira ini kepada rumput, batu, padang ilalang, bintang, hutan dan pokoknya seluruh penghuni Gunung sidoro. Bahwa kami sudah sampai di POS III dengan rasa yang suangat senang sekali. Dipos ini kami mendirikan tenda dan dome untuk peristirahatan kami. Sesudah itu kami langsung terkapar tidur didaratan gunung sindoro.
Tanpa terasa kami bangun dan melihat pukul 07.00 WIB. Hawa masih seperti dalam kulkas yang begitu dinginnya. Seseorang dari kami entah ada angina pa, untuk membuka isi tas yang besar mempersiapkan kompor, gas, gandum, tempe, garam, ternyata ia mempersiapkan untuk membuat tempe goreng(gorengan). 1,2,….ke-20 tempe dibuatnya diatas tanah POS III G sindoro. Sindoropun seakan meledek pada orang tersebut “apa kamu koki seperti dalam harmoni alam itu,’kata sindoro”. Itulah kata-kata pertama yang lembut sindoro berkomentar kepada perjalanan kami. Tepat jam 09.00 WIB kami melanjutkan perjalanan kami ke puncak.
Perjalanan kami terus menaik tanpa kenal ampun. Sesekali dalam perjalanan ada tulisan puncak. Kami pun terus mencoba merangkak mendekatinya. Satu punggungan terlihat dari kami, kami merasa itu puncak ternyata setelah kami datangi punggungan itu bukan puncak dari sindoro. 1, 2, 3 kami berhasil menaklukan punggungan depan mata kami, tapi punggungan itu tanpa henti terus meledek kami dengan senyuman yang khas bahwa depan mata kami menanti punggungan yang lebih tajam. Sesekali dari kami membuat teriakan yang menggeparkan gunung seisinya “break” tanda kami harus berhenti untuk mengumpulkan tenaga dan semangat baru untuk mengarungi punggungan depan kami. Dan akhirnya seseorang dari kami marah kepada G Sindoro “Puncak, ke puncak, mana yang puncak dari tadi hanya ada tulisan puncak, wah sindoro penipu,’kata teman kami” dengan santainya sindoro menjawab “itu depan kamu udah puncak,’sindoro menjawab”. Akhirnya teman kami langsung naik dengan cepat seakan ada bisikan semangat yang luar biasa. Mungkin dalam hatinya berkata bukit ini pasti puncaknya. Dan lagi-lagi sindoro membuat kebohongan yang luar biasa lebih dari kebohongan seorang koruptor kepada rakyatnya. Bukit itu bukan puncak dan didepannya masih terhampar luas bukit yang lain….
Jam 11.30 sebagian dari kami sampai dipuncak. Suatu kenikmatan yang luar biasa, ingin sekali memberikan kabar ini ke seluruh penjuru dunia bahwa ia sekarang tak tertipu lagi oleh puncak sindoro. Tapi sebagian dari kami ada di bawah dan tak sanggup melanjutkan perjalanan sampai dipuncak sindoro.
Karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk sampai dipuncak kami pukul 13.00 kami turun dari sindoro. Perjalanan semakin tertatih-tatih, tanpa penerangan akirnya pukul 22.00 WIB kami beristirahat yang kedua kalinya di tanah sindoro. Pukul 07.00 WIB kami sampai dipos SAR dan mengakhiri perjalanan yang selalu dibohongi itu.
yang sarungan siapa tuh? kaya atlet badannya.. sixpack.. keren bener.. naksir saya :D
BalasHapushahahahasyuhuhuhu.....
sing ngaplot foto gembus.. fotoku sarungan kabeh, dadi ra koyo pendaki tapi malah koyo wong arep ronda..
BalasHapus