Meskipun sangat berat tetapi tak seberat perjuangan mereka…
Panjang, Terjal, Curam itulah sedikit gambaran mengenai jalur pendakian di Gunung Sumbing. Indah dan menakjubkannya ciptaan Alloh SWT dapat kita nikmati ketika mendaki Gunung Sumbing. Gunung Sumbing adalah gunung tertinggi ke dua di Jawa Tengah dengan ketinggian mencapai 3.371 meter di atas permukaan laut. Gunung ini berhadapan dengan Gunung Sindoro yang dikenal sebagai gunung kembar Tepat tanggal 04 November 2009, setelah UTS berakhir, AVANTE yang terdiri atas Noel, Annas, Afa, Enggar, Moko, Arif, Riza, Zakariya, Romi dan Damar pergi ke Kabupaten Wonosobo untuk mendaki Gunung Sumbing. Pendakian ini juga dalam rangka memperingati hari Pahlawan yang jatuh pada tanggal 10 November 2009.
Jam 15.30 AVANTE berangkat dari Jogja dan sampai di Base camp pendakian yang terletak di Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah sekitar pukul 19.30. Memang agak lama perjalanan menuju Base Camp ini dikarenakan hujan yang turun di tengah perjalanan yang memaksa kami harus berhenti sejenak. Perjalanan ini sendiri kami tempuh dengan sepeda motor.
Perjalanan yang cukup memakan waktu ini membuat kami lelah sehingga kami harus beristirahat sampai fit kembali untuk mulai mendaki. Sambil beristirahat, kami bertanya-tanya kepada pengurus base camp mengenai pendakian lewat dusun Garung. Sekedar informasi, pendakian gunung Sumbing dapat ditempuh melalui tiga jalur yaitu: 1. Jalur Dusun Garung (punggung utara) 2. Jalur Cepit Parakan (punggung timur) 3. Jalur Kalikajar (punggung barat) Dari ketiga jalur pendakian, jalur melalui Dusun Garung adalah jalur yang paling banyak diminati oleh para pendaki karena jalur ini telah banyak petunjuk dan keamanan medannya lebih terjamin dan juga waktu tempuh perjalanan dengan menggunakan jalur ini merupakan yang tercepat dibanding dengan dua jalur lainnya. Setelah semua persiapan yang terdiri dari pengecekan perbekalan, kesiapan fisik dan mental siap, AVANTE memulai perjalanan (sekitar pukul 21.30).
Ada dua jalur pendakian melalui dusun Garung ini, yaitu: Jalur Lama dan Jalur Baru. Dari sumber yang kami peroleh sebenarnya tidak ada perbedaan yang khusus mengenai kedua jalur ini hanya arah dan sudut pendakiannya saja yang sedikit berbeda. Jika menggunakan jalur lama maka akan terasa sangat berat karena di sekitar (Seduplak Roto ) atau kilometer kelima pendakian, pendaki akan menemukan medan pendakian yang berkemiringan sekitar 70 derajat, sehingga pada saat turun hujan akan sangat berbahaya untuk didaki. Berbeda dengan jalur baru yang terletak di sebelah barat jalur lama, medan pendakian tidak seberat jalur lama hanya ketika menggunakan jalur ini pendaki akan banyak melewati daerah perbukitan kecil sehingga akan terasa lebih lama. Relief dari gunung ini mempunyai banyak lembah-lembah di kanan dan kiri itu menyebabkan pendaki harus ekstra hati-hati sewaktu melakukan pendakian karena tidak menutup kemungkinan terjadi kecelakaan dalam proses pendakian, terutama bila pendakian dilakukan pada malam hari atau bila cuaca di sekitar gunung sedang terjadi kabut tebal.
AVANTE memilih jalur baru sebagai jalur pendakian. Rute-rute di jalur baru terdiri dari:
KM 1: Dari gapura dusun Garung ke Base Camp, jalan kaki sekitar 15 menit;
KM 2: Kebun Penduduk;
KM 3: Kebun penduduk;
KM 4: Pendakian akan melewati hutan pinus, kemudian menyeberangi sebuah sungai di Kedung. Tidak jauh dari sungai sampailah di Pos I. Di sini terdapat mata air yang bentuknya telah permanen karena mata air ini juga dipakai untuk keperluan ladang pertanian. Sayang, ketika kami melewatinya air yang ada tidak memungkinkan untuk dikonsumsi;
KM 5: Di sini terdapat Pos II yang terletak di Gatakan dengan ketinggian 2240 mdpl. Kami sampai di Pos II sekitar pukul 01.30. Di sini kami mendirikan tenda dan bermalam. Pos II sangat cocok untuk nge-camp karena berupa dataran yang agak luas serta tertutup sehingga dapat terhindar dari badai yang bisa datang tiba-tiba. Perjalanan kami lanjutkan pukul 06.00.
KM 6: Jalur lama dan jalur baru akan bertemu di Pestan, pendaki dapat beristirahat atau mendirikan tenda di sini. Di tempat ini tidak ada pepohonan. Di sini terdapat tempat yang bernama Pasar Watu karena banyak sekali terdapat batu-batu yang berserakan. Tidak jauh dari Pasar Watu dengan melalui jalan yang sangat sempit dan sebelahnya adalah jurang sampailah di Watu Kotak, sebuah batu besar berbentuk kotak yang dapat digunakan untuk berlindung dari hempasan angin kencang atau hujan. Di KM 6 ini rute sangat menanjak khususnya rute sebelum Pestan. Sebagian besar KM 6 sebelum sampai di Pasar Watu, medan terdiri dari tanah yang sangat gembur dan pasir sehingga menyulitkan kami agar bisa cepat sampai di Watu Kotak. Kami sampai di Watu Kotak sekitar pukul 13.00. Di sepanjang KM 6 kita dapat menikmati keindahan Gunung Sindoro di sebelah kiri ketika menanjak.
KM 7: Dari Watu Kotak menuju Tanah Putih kemudian menuju Puncak Buntu, kami memerlukan waktu sekitar 1.5 jam dengan jalur yang sangat berat dan berbatu-batu serta sangat menanjak. Di KM 7 ini gas Sulfur sesekali bisa tercium baunya. Di Puncak Buntu, kita dapat melihat dua kawah Gunung Sumbing yang sudah tidak aktif lagi. Untuk menuju ke Puncak Utama kita dapat mengambil ke arah kanan. Tetapi karena dengan banyak pertimbangan seperti: jalur menuju Puncak Utama sangat berbahaya, perbekalan yang tinggal sedikit, cuaca yang mulai gerimis yang disertai bunyi guntur serta waktu yang sudah menjelang petang maka kami tidak melanjutkan perjalan ke Puncak Utama. Meskipun begitu kami sudah sangat bersyukur kepada Alloh SWT karena bisa sampai di puncak Buntu dengan selamat.
Sekitar pukul 15.00, kami memutuskan untuk turun kembali menuju Watu Kotak. Sekitar 45 menitan akhirnya kami sampai. Istirahat sejenak, pukul 16.30 kami kembali ke pos II. Kami hanya memerlukan sekitar 2,5 jam untuk kembali ke pos II. Akhirnya dengan ungkapan rasa syukur yang tak terkira kami sampai di base camp sekitar pukul 22.00.
Dari pendakian yang kami lakukan, banyak hal yang dapat kita ambil hikmahnya. Rasa kagum terhadap hasil ciptaan Alloh SWT atas penciptaan pemandangan yang sangat elok benar-benar menambah keimanan kita. Kita dapat melihat pergerakan kabut secara nyata, garis horizon, keindahan vegetasi Edelweis, Gunung Sindoro dari Gunung Sumbing, keindahan langit malam yang bertabur bintang tanpa ada cahaya lain yang mengganggu, keindahan suasana malam kota di sekitar gunung Sumbing, keindahan susunan pedesaan dari atas yang mungkin ketika mengamatinya di bawah kita tidak dapat menemukan susunan yang menarik, keindahan garis-garis pematang sawah yang saling terhubung yang membentuk pola yang sangat menarik dan pasti masih banyak lagi keindahan yang tidak sempat kami simpan dalam memori otak kami. Selain itu dengan melakukan pendakian kami dapat berlatih untuk mematuhi peraturan-peraturan yang ada karena jika dilanggar maka akan membahayakan keselamatan kami. Dan juga kami benar-benar dilatih untuk bekerja sama dengan baik agar perjalanan dapat berjalan dengan lancar.
Dari pengalaman kami, ada beberapa saran jika ingin mendaki gunung Sumbing melalui dusun Garung, yaitu:
1. Bawalah air yang banyak karena dalam medan tidak ada sumber mata air yang mengeluarkan air yang layak diminum.
2. Aturlah pemakaian air dengan sebaik-baiknya, jangan sampai air habis di tengah jalan seperti yang kami alami.
3. Hindari melewati jalur dari Pasar Watu menuju Watu Kotak pada kondisi langit gelap karena jalannya sangat sempit dan di sebelahnya terdapat jurang.
4. Bekerjasamalah dengan rombongan dengan sebaik-baiknya.
5. Jangan lupa untuk selalu berdoa di sepanjang jalan agar bisa sampai ke puncak dan dapat kembali lagi dengan selamat.
Kami berangkat kembali ke Jogja hari Jumat, 06 November 2009 pukul 07.00 dan sampai sekitar pukul 10.00. Rasa lelah tidak ada artinya jika dibandingkan dengan banyak hikmah yang dapat kami ambil dari pendakian ini.
Dalam kaitannya dengan peringatan hari Pahlawan, pendakin ini dapat dianalogikan dengan perjuangan para Pahlawan dalam rangka meraih kemerdekaan ataupun mempertahankan kemerdekaan. Sama halnya dengan kemerdekaan yang merupakan tujuan yang ingin diraih oleh para Pahlawan, Puncak Gunung adalah tujuan yang ingin dicapai oleh para pendaki. Badai, medan yang terjal dan cuaca yang tidak bersahabat dapat dianalogikan dengan para penjajah yang merupakan penghambat untuk meraih kemerdekaan. Pengibaran bendera di puncak dapat dianalogikan dengan pengibaran bendera di tiang yang merupakan symbol kemerdekaan. Pendakian ini tentunya untuk bertujuan untuk merenungi bahwa perjuangan para Pahlawan meraih kemerdekaan adalah begitu berat. Maka sebagai generasi penerus kita harus mengisi kemerdekaan agar jangan sampai kemerdekaan itu lepas ke tangan bangsa lain. Semoga semangat dan keberanian para Pahlawan dapat kita contoh.
Semoga para Pahlawan yang telah gugur mendahului kita diterima di sisi Alloh SWT… Amin…
wah Sumbing... bener2 dah... pengalaman yg tak terlupakan...
BalasHapus